kapok percaya pak Suf
(kelas KPI A berfoto bersama)
Seringkali kita
bersua namun tak ada bincang-bincang yang memperlambat sebuah pertemuan,
seringkali kita bertemu namun tak pernah ada kenangan bersama yang bisa kita
ulang di suatu masa, dan seringkali kita menghabiskan waktu bersama namun apa
daya tidak ada jejak rekam yang patut kita putar jika suatu hari memasuki usia
renta. Di sini saya hanya ingin meninggalkan jejak rekam yang juga merupakan
tugas final saya berupa suatu pengalaman indah yang pernah saya dan teman-teman
lalui bersama tentunya dengan seorang dosen andalang saya, bapak dr. Suf
Kasman, M.Ag, dosen mata kuliah komunikasi lintas agama dan budaya yang
juga merupakan dalang utama dari sebuah cerita yang akan saya coba tuturkan di
sini.
Sebelum
melanjutkan, mungkin aneh jika pembaca tidak mengetahui siapa penulis tulisan
ini. Maka dengan rendah hati saya ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu. Raden
Fathria Dian Ahmad adalah nama yang orang tua saya berikan sejak kelahiran
saya 19 tahun silam. Teman-teman saya sering memanggil saya raden, cici,
ataupun fathria. Anak bungsu yang lahir di Jakarta, 23 Februari 2000. Sudah
terbiasa tinggal jauh dari orangtua yang sibuk bekerja menjadikan saya mandiri
sejak kecil dan berani sekolah jauh di suatu kota damai nan asri di Jawa timur
dari kelas 5 sd hingga tamat sma. Mental berani menahan rindu pun semakin hari
semakin terbentuk hingga akhirnya saya pun berani pergi melanjutkan studi lebih
jauh dari sebelumnya. Makassar. Tepatnya di UIN Alauddin Makassar jurusan
Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) fakultas Dakwah dan Komunikasi.
Chapter1
Jika ada yang bertanya
kepada saya bagaimana seorang pak suf itu? Tentu saya akan menjawab bahwa pak
Suf adalah doke nya UIN Alauddin Makassar. Ya, doke adalah singkatan dari dosen
keren, hehehe. Dosen saya yang keren ini sangat terkenal di kalangan mahasiswa.
Coba sebut nama beliau pasti hal pertama yang terlintas adalah dosen kece,
rapi, selalu menggunakan peci khas orang makassar dengan warna hitam dan emas,
dan juga gaya mengajar beliau yang cukup nyentrik. Mengapa disebut nyentrik?
Tentunya karena dosen saya ini sangat menjunjung tinggi yang namanya berkah.
Berkah nya seorang mahasiswa yang tholabul-ilmi pada beliau, menuntut
mahasiswa untuk disiplin waktu karena jam terbang beliau yang sibuk sebagai
dosen dan juga penceramah tentu tidak bisa mengulur-ulur waktunya hanya untuk
menunggu mahasiswanya yang terlambat bangun untuk mengikuti kelas beliau bukan?
Oh ya, pak Suf ini juga hobi sekali mengulang-ulang perkataan beliau ketika
mengajar dan hobi memberikan ilustrasi pada kuliahnya, mungkin inilah salah
satu kepiawaian beliau dalam mengajar, sehingga mahasiswa hanya melototi diktat
kuliah. Bapak juga acapkali memaksa mahasiswa nya untuk bernalar secara kritis,
bukan asal cuap-cuap tidak berbobot. Mungkin karena mata kuliah yang beliau
ajarkan juga lumayan berat menyangkut lintas agama dan juga budaya yang
tentunya toleransi dan akidah mempunyai andil yang sama dalam hal ini.
Satu hal yang
saya pegang erat-erat berdasarkan pengalaman saya selama perjalanan study tour
ke Toraja adalah jangan percaya bulat-bulat dengan apa yang pak Suf katakan.
Seperti apa? Ah di part selanjutnya saja saya akan menjelaskan kenapa kita
tidak boleh menelan bulat-bulat apa yang pak Suf katakan. A man with his mind
out of the box adalah gambaran yang tepat untuk pak Suf. Mengapa? Karena pemikiran
pak Suf yang seringkali out of the box tapi nyambung jika dinalar, sungguh lucu
memang, tapi ya itulah singkat padatnya pak Suf dari kacamata saya, hehehe.
Chapter 2
Toraja adalah
pilihan yang akhirnya disetujui teman-teman sebagai kota study tour yang berlangsung
selama 3 hari ini. Dan selama 3 hari tersebut kami akan mengunjungi 4 lokasi
yang berbeda, yaitu Londa, Buntu Burake, Kette Kesu’, Pasar Rantepao dan Buntu
Burake. Untuk persiapan keberangkatan tentu sudah saya siapkan jauh-jauh hari.
Yang penting dari yang penting adalah uang. Laparki bisa beliki makanan. Tapi
kalau tidak ada uang, pusingki kalau mau pinjam-pinjam dulu sama teman. Tul
tak?
Chapter 3
Perjalanan kami
ke Toraja pun di mulai, dengan titik kumpul di mesjid chenghoo dengan 3 bus
pariwisata dari kelas KPI A, KPI B, dan BPI B saling beriringan menyusuri
jalanan kota. Saya yang duduk di kursi belakang adalah posisi paling pas untuk
bernyanyi keras-keras. Mungkin bisa disebut kursi ambyar, dimana teman-teman
saya yang bagian belakang seperti fike, fhany, falaq, yusuf, putra dan fuad
ikut bernyanyi dengan keras seperti saya, kecuali teman seperjalanan dan
seperdudukan, cici, yang duduk adem ayem disebelah saya tanpa ikut bernyanyi,
ukhti sekali teman saya ini, ahaha. Semua lagu dinyanyikan. Dari dangdut,
koplo, pop, qasidahan, inggris sampai mellow.
Perjalanan kali
ini terasa sangat menyenangkan bagi saya, selain bernyanyi bersama-sama dengan
teman, berbagi snack, tidur, hingga bersenda gurau kami lakukan. Beberapa kali
kami sempat singgah untuk sholat, ataupun menunggu sopir mengisi perutnya. Dan
ketika bis kami sampai di sidrap hal yang tidak terduga terjadi. Bis yang
ditumpangi teman-teman saya dari KPI B mengalami masalah di ban nya, sehingga
kami harus sabar menunggu beberapa saat untuk diperbaiki. Ternyata lama sekali
kami menunggu disana, sekitar 4 jam lebih seperti anak hilang. Duduk-duduk di
pinggir jalan, makan, bermain game, melamun, sibuk update di instagram cerita
bahwa ban bis teman mengalami masalah hingga akhirnya tidur di saung namun kehujanan
dan kembali lagi masuk ke dalam bis untuk melanjutkan tidur. Hawa bis yang
panas membuat saya tidak dapat tidur dengan nyaman, mengingat dekat bis kami
ada atm bni disana akhirnya saya memilih untuk “ngadem” dan akhirnya
tertidur di sana. Apesnya, teman saya yang bersama saat itu dengan saya, Fike,
iseng sekali dia memvideo saya yang asik tidur di dalam loket atm bni itu, ah
biarlah, yang penting saya bisa tidur nyaman tanpa kepanasan ahahahaha.
Alhamdulillah
akhirnya bis kami dapat melanjutkan perjalanan meskipun harus meninggalkan bis
KPI B hingga selesai perbaikan. Esok paginya bis kami akhirnya sampai di Tana
Toraja lebih tepatnya di penginapan PUSDAM Muhammadiyah sekitar pukul 9.
Sembari menunggu bis KPI B dalam perjalanan saya dan teman-teman diberi waktu
untuk beristirahat sejenak, makan, mandi, dan bersiap untuk mengunjungi
destinasi wisata di Tana Toraja.
Chapter 4
Destinasi awal
perjalanan kami adalah lemo, dengan batas waktu satu jam di lokasi jadi saya
dan teman-teman hanya sekilas melihat dan mengambil gambar, lalu kembali
melanjutkan perjalanan ke lokasi selanjutnya yaitu londa, destinasi yang tidak
jauh berbeda dengan lokasi sebelumnya yaitu lemo, berisikan peti-peti mayat
yang diawetkan, namun di londa kali ini berbeda. Terdapat gua didalamnya, dan
di lokasi ini juga saya tidak akan pernah mempercayai perkataan pak Suf
bulat-bulat. Jadi lokasi kali ini, pak Suf bilang di dalam goa ini menjadi
pengalaman yang takkan terlupakan, di goa ini mungkin nanti ada yang dapat
penampakan halus yang tidak akan dilupa hingga berbulan-bulan. Rada ngeri juga
ketika saya melihat ada karangan bunga yang di pajang di sana, saya fikir itu
adalah orang-orang yang tidak mampu keluar dari goa karena berani mencoba
memasuki goa tersebut. Dengan mengumpulkan keberanian saya dan teman-teman
mengikuti rombongan sambil mendengar penjelasan dari guide yang memapah
perjalanan dengan lentera ini. Hingga akhirnya pak Suf menjelaskan bahwa jika
kami ingin melanjutkan perjalanan ini, kami harus memasuki goa hingga merangkak
bahkan tengkurap jika ingin berhasil melewati rintangan goa ini. Penasaran yang
diselimuti rasa takut dan ngeri tidak dapat kembali keluar goa akhirnya membuat
saya memberanikan diri untuk masuk lebih dalam ke dalam goa londa ini bersama
beberapa teman. Saya yang paling belakang dari rombongan perempuan sempat
tertinggal dari teman depan saya Nurlisa yang cepat sekali merangkaknya. Sambil
berteriak berulang kali meminta Lisa agar tidak meninggalkan saya sendirian.
Untungnya pak Suf yang tepat sekali berada di belakang sehingga tidak terlalu
membuat saya takut, tapi bagian inilah saya jadi bahan bercandaan bapak. Takut
masuk goa. Sebenarnya saya tidak takut pak, hanya takut tidak bisa kembali
keluar dari goa, lagi pula selama perjalanan didalam goa-yang memang membuat
saya harus susah payah tengkurap merangkak karena sibuk mengejar Lisa. Dan saya
tidak menemui makhluk halus disana, Alhamdulillah, sebenarnya memang tidak ada,
hanya pak Suf saja yang mengada-ada agar kami para mahasiswanya takut dan tidak
berani masuk goa. Hmm nyatanya saya berani pak. Ahaha
(foto bersama pak Suf di dalam goa londa)
Kete’ Kesu adalah
destinasi selanjutnya yang kami kunjungi, melihat rumah tongkonan, rumah adat
khas Sulawesi Selatan yang selama ini saya lihat hanya berupa gambar, karena
saya orang sunda tentu ini salah satu kesempatan saya bisa melihat fisik rumah
adat ini, dan tak lupa berfoto ria bersama teman-teman, tidak lupa saya membeli
oleh-oleh disini, seperti gelang, tas, hingga kopi toraja. Sebagai penghujung
destinasi di hari itu, lokasi terakhir yang kami kunjungi adalah pasar
Rantepao, pusat oleh-oleh khas Toraja. Teman-teman saya pun sibuk memilah-milih
kira oleh-oleh apa yang hendak dibeli untuk sanak saudara.
Setelah puas
berbelanja, akhirnya kami kembali ke PUSDAM untuk beristirahat. Karena malam
itu malam minggu pak Suf mengizinkan kami pergi jalan-jalan di alun-alun kota
Toraja dan dibatasi hingga jam 10 malam. Setelah selesai makan malam, saya
diajak beberapa teman kelas yaitu Lisa, Cici, Gress, Nurhayati, dan Ratna untuk
menikmati malam minggu di alun-alun. Jarak yang dekat dari PUSDAM ke alun-alun
mampu kami tempuh hanya dengan berjalan kaki lima menit. Menikmati air pancur
warna-warni dan keramaian, tidak lupa dengan berfoto bersama tentunya. Beberapa
teman memilih untuk segera kembali ke penginapan, tinggal lah saya dan Ratna si
ibu pembagi snack rata jika dibus (kami memanggilnya begitu) memilih untuk
menikmati malam minggu lebih lama sembari mengitari kolam air mancur
warna-warni yang besar itu, ya kami m-e-n-g-i-t-a-r-i kolam besar tersebut, dan
beberapa kali kami disapa warga sekitar dengan mengucapkan assalamualaikum.
Hei, kebanyakan orang Toraja adalah non-muslim bukan? Namun mereka ramah sekali
pada kami, mereka menyapa dan mengucapkan salam. Sungguh toleransi mereka baik
sekali pada kami yang notabene muslimah. Setalah lelah mengitari kolam air
mancur warna-warni yang besar tersebut, akhirnya saya dan Ratna memilih untuk
menonton atraksi gratis para remaja yang sedang unjuk kebolehan mereka –dan
mungkin juga latihan rutin mereka bermain skateboard. Pukul 10 malam, kami
kembali ke penginapan dan bersiap untuk melanjutkan hari esok.
Chapter 5
Hari terakhir
kami di Tanah Toraja kami mengunjungi Buntu Burake, patung yesus terbesar yang
ada di Indonesia. Untuk menuju ke sana kami diangkut dengan truk dan melalui
jalan yang berkelak-kelok dengan tanjakannya yang curam. Cukup sebagai pemacu
andrenalin saya dan teman-teman di pagi hari. Spot jantung lebih tepatnya.
Selama disana kami berfoto ria dan menikmati pemandangan kota Toraja dari
ketinggian. Dan setelah ini kami harus kembali ke Makassar sebelum hari
beranjak malam. Tidak ingin kebersamaan ini harus berhenti, teman-teman di bis tetap
ramai bernyanyi selama perjalanan dan pak Suf yang ikut rombongan kelas kami
ketika pulang, memberi kami wejangan dengan ceramah beliau sebagai penutup dari
semua kegiatan kami selama 3 hari ini. Dan sebelum sampai di Makassar kami
sempat mampir di pangkep untuk makan bakso dan coto hanya seharga 5000 saja,
bukan murah, tapi makan kami ditalang oleh bendahara, ahahaha. Pukul 10 malam,
rombongan 3 kelas dengan 3 bis alhamdulillah samapi dengan selamat di depan
gerbang UIN Alauddin. Dan berakhirlah sudah kebersamaan kami dari menjadi anak
hilang di sidrap, menjadi turis domestik di Toraja, dan kembali menjadi
mahasiswa samata. terimakasih Cicik Khumairah teman seperdudukan yang rela
tangannya saya genggam terus menerus selama saya tidur di bis, teman-teman KPI
A yang ambyar selama perjalanan, dan teman-teman yang tidak bisa saya sebut
satu persatu nama-namanya, dan terkhusus untuk pak Suf yang sudah membimbing kami di
semester ini dan mengajak kami study tour ke Toraja, sehat-sehat terus pak! See
you.
(saya berpose di depan salah satu rumah adat)

Kewreeeen!! Di asah terus, dan semangat terus!! See you on top
BalasHapus